Sunday, August 17, 2014

Perjuangan Untuk Menyelesaikan Naskah Novel Terusir dari Rimba Part 1

Hallo semua, apa kabar? Semoga anda dalam keadaan sehat wal afiat yak.

Pada kesempatan ini saya ingin berbagi cerita tentang perjuangan saya merampungkan lembar demi lembar naskah novel Terusir dari Rimba. 
Awalnya saya tidak pernah menyangka bisa membuat tulisan dengan jumlah lembaran di microsoft word mencapai angka 100 lembar lebih hasil ide saya sendiri. Apa yang saya ceritakan sehingga bisa berlembar-lembar seperti itu? Darimana inspirasi saya sehingga bisa membuat cerita dalam jumlah lembaran yang banyak?. Itulah beberapa pertanyaan yang dulu ada pada benak saya. Pertanyaan yang sekaligus menjadi racun bagi saya sehingga saya malas untuk membuat sebuah novel.

Namun rasa malas itu akhirnya bisa saya atasi. Bermula dari berita tentang kebakaran hutan di wilayah kepulauan riau yang asapnya sampai menutupi area kota dan bahkan sampai pula ke negeri jiran yaitu Singapura dan Malaysia membuat hati saya terenyuh akan kondisi hutan Indonesia sekarang ini. Rasa cinta saya terhadap keindahan alam yang dimiliki Indonesia terutama hutannya dan semua jenis flora dan fauna yang ada didalamnya membuat saya tergerak untuk membuat sebuah novel yang berkenaan dengan hutan. 


Bak sebuah wangsit, tiba-tiba di benak saya terbersit untuk membuat sebuah kisah tentang orang rimba yang terusir dari hutan yang merupakan tempat mereka hidup karena kerakusan manusia yang melakukan pembakaran hutan untuk tujuan pembukaan lahan kelapa sawit. Tanpa memperolah kesulitan berarti saya pun langsung bisa menentukan judul yang pas untuk tulisan/novel saya ini. Dan Terusir dari Rimba lah satu-satunya judul yang dapat mewakili imajinasi saya tentang cerita novel ini. 

Setelah menentukan judul novelnya, langkah selanjutnya adalah menentukan tokoh-tokoh utama yang terlibat dalam kisah di novel tersebut. Nah untuk tahap ini jujur, saya sendri sempat mendapat kesulitan. Namun akhirnya saya berhasil mengurai kesulitan tersebut dengan berpatokan pada penokohan berdasarkan nama suku batak supaya jiwa sumateranya masuk ke dalam cerita novel yang menceritakan tentang sebuah suku pedalaman yang hidup di hutan pulau sumatera. 

Akhirnya terpilihlah nama-nama seperti Duma (pemeran utama wanita), Butet (adik Duma), Inang (Ibu dari Duma), Halomoan (Ayah dari Duma). Pun juga berlaku untuk tokoh-tokoh selanjutnya. Pada awalnya saya ingin memberi nama Towela untuk pemeran utama wanitanya disebabkan karena pada saat itu nama "Nowela" lagi ngehits di ajang pencarian bakat yang diadakan di salah satu televisi swasta. Namun akhirnya saya memilih Duma untuk menjadi nama si pemeran utama sedangkan Towela menjadi nama sepupu Duma yang juga sama-sama perempuan dan berusia sama. 

Pada saat saya memulai mengetik naskah novel ini tiba-tiba kesehatan saya terganggu. Sekujur badan saya mendadak menjadi panas. Oh..my God,,,ya tuhan....lagi..lagi..saya terserang demam. 
Memang terbilang sering saya terserang demam panas karena kecapean atau apalah, namun biasanya demam saya akan langsung sembuh seketika saya minum obat Bodxxxx. Tapi kali ini 2 butir Bodxxxx yang biasa saya konsumsi kalau terserang demam sama sekali tidak mempan. Saya akhirnya terkapar di kostan saya selama dua hari tanpa ada seorangpun yang tahu bagaimana kondisi saya ketika itu. Saya tidak berani menghubungi keluarga saya di kampung bahwa saya benar-benar tidak berdaya terkapar sendirian di kasur kostan saya. Untungnya sehari sebelum terkapar saya sempat belanja berbagai jenis buah-buahan dan cemilan dulu ke supermarket  sebagai bekal di kostan. Mungkin itu juga sudah firasat bahwa saya akan jatuh sakit sehingga saya harus prepare dulu menyuplai makanan di kostan. 

Selama dua hari terkapar saya tak kuasa untuk membuka laptop saya dan meneruskan membuat cerita novel yang baru saja terkumpul 3 halaman itu. Kepala saya berat, badan saya panas dan lemas sehingga saya hanya bisa pasrah berbaring di tempat tidur. Selama terkapar itu saya tetap mempertahankan konsep jalan cerita yang telah saya tangkap dalam imajinasi saya. Saya berharap kondisi saya akan segera membaik supaya saya bisa mencurahkan semua imajinasi yang masih terngiang dalam pikiran saya ke dalam sebuah tulisan. 

Bersambung
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment